Konsultasi WhatsApp

Tata Cara Sai: Panduan 7 Kali Perjalanan Shafa ke Marwah

Sai adalah berjalan (atau berlari kecil) bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali perjalanan: dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Satu kali perjalanan Shafa → Marwah dihitung satu putaran. Sai mengenang perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail, hingga Allah memancarkan air zam-zam.

Apa Syarat dan Rukun Sai?

Sai adalah rukun umroh — tanpanya umroh tidak sah. Ketentuan pokoknya:

  • Didahului thawaf — sai dilaksanakan setelah thawaf umroh selesai.
  • Dimulai dari Shafa, berakhir di Marwah — urutan ini wajib; 7 perjalanan berarti: Shafa→Marwah (1), Marwah→Shafa (2), Shafa→Marwah (3), Marwah→Shafa (4), Shafa→Marwah (5), Marwah→Shafa (6), Shafa→Marwah (7).
  • Menempuh seluruh jarak — setiap perjalanan harus benar-benar sampai ke bukit tujuan, tidak boleh berbalik di tengah.
  • Dilakukan di jalur sai (mas'a) — area khusus ber-AC di dalam kompleks Masjidil Haram yang kini tertata rapi bertingkat.

Bagaimana Langkah-Langkah Sai yang Benar?

  1. Naik ke Bukit Shafa — disunnahkan naik hingga terlihat Ka'bah, lalu menghadap kiblat sambil membaca takbir, tahlil, dan doa.
  2. Baca doa di Shafa — di antaranya: "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar... laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah..." dilanjutkan doa bebas sesuai hajat.
  3. Berjalan menuju Marwah — dengan tenang dan khusyuk, memperbanyak dzikir dan doa.
  4. Berlari kecil di antara dua tanda hijau — bagi laki-laki disunnahkan berlari-lari kecil (harwalah) di area bertanda lampu hijau; perempuan berjalan biasa.
  5. Sampai di Marwah, berdoa lagi — menghadap kiblat dan berdoa seperti di Shafa. Ini terhitung satu perjalanan.
  6. Kembali ke Shafa — begitu seterusnya hingga genap 7 perjalanan dan berakhir di Marwah.
  7. Tahallul — setelah sai selesai, umroh ditutup dengan tahallul (mencukur/memotong rambut).

Apa Saja Sunnah dan Adab Selama Sai?

  • Suci dari hadats dan menutup aurat — disunnahkan meski tidak seketat syarat thawaf menurut sebagian ulama; tetaplah jaga kesucian.
  • Berjalan kaki — sai dengan kendaraan hanya untuk yang beruzur (sakit/lansia); tersedia kursi roda dan layanan pendorong.
  • Perbanyak dzikir dan doa — tidak ada bacaan khusus yang wajib; doa apa pun dalam bahasa apa pun diperbolehkan.
  • Tidak terburu-buru — sai bukan lomba; jaga kekhusyukan dan beri ruang bagi jamaah lain, terutama lansia.
  • Minum air zam-zam — tersedia di sepanjang jalur mas'a; manfaatkan untuk menjaga stamina.

Tips Praktis Sai untuk Jamaah Indonesia

  • Pilih waktu yang sejuk — jalur mas'a ber-AC, tetapi kepadatan memengaruhi kenyamanan; konsultasikan waktu terbaik dengan muthawwif.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman — total jarak 7 perjalanan sekitar 2,8 km; sandal yang empuk sangat membantu.
  • Siapkan fisik — bagi yang jarang berjalan jauh, latih jalan kaki beberapa minggu sebelum berangkat.
  • Jamaah lansia jangan memaksakan diri — gunakan kursi roda dengan pendorong resmi; ibadah tetap sah dan sempurna.
  • Tetap bersama rombongan — tandai titik kumpul; area mas'a luas dan mudah terpisah dari rombongan.

Apa Makna dan Hikmah di Balik Ibadah Sai?

Sai bukan sekadar olahraga jalan kaki — ia adalah teater perjuangan Siti Hajar yang diabadikan menjadi ibadah. Hikmah-hikmahnya dalam:

  • Ikhtiar sebelum tawakal — Siti Hajar berlari tujuh kali mencari air sebelum Allah memancarkan zam-zam dari dekat kaki Ismail. Pesannya: berusaha maksimal dulu, baru berserah.
  • Pertolongan datang dari arah tak terduga — air tidak muncul di Shafa atau Marwah tempat ia mencari, melainkan di tempat bayinya berada. Rezeki sering datang bukan dari jalur yang kita duga.
  • Peran perempuan dimuliakan — perjuangan seorang ibu diabadikan menjadi rukun ibadah yang dilakukan jutaan manusia lintas generasi; penghormatan tertinggi bagi sosok ibu.
  • Kesabaran dalam pengulangan — tujuh kali bolak-balik mengajarkan bahwa hasil besar sering membutuhkan pengulangan usaha yang melelahkan, bukan sekali coba.

Merenungkan makna ini saat melangkahkan kaki di mas'a mengubah sai dari rutinitas fisik menjadi perjalanan batin — dan inilah yang membuat banyak jamaah meneteskan air mata di putaran-putaran terakhirnya.

Apakah Sai Boleh Dijeda untuk Istirahat?

Boleh. Tidak ada kewajiban menyelesaikan 7 putaran dalam sekali jalan tanpa henti. Jamaah yang kelelahan — terutama lansia — boleh duduk istirahat di area mas'a, minum, bahkan keluar sebentar untuk keperluan mendesak, lalu melanjutkan dari hitungan terakhir. Yang penting hitungan putarannya tidak terputus tertukar: catat atau ingat-ingat sudah berapa perjalanan yang selesai.

Tips praktis: gunakan tasbih atau penghitung di jari untuk menandai setiap perjalanan. Banyak jamaah yang ragu di tengah jalan ("ini sudah putaran ke-5 atau ke-6?") — keraguan ini hilang dengan pencatatan sederhana. Jika benar-benar ragu, ambil hitungan yang lebih kecil (yakin) lalu lanjutkan hingga genap tujuh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah sai harus langsung setelah thawaf?

Disunnahkan segera, tetapi boleh dijeda untuk istirahat bila diperlukan — misalnya bagi lansia atau yang kelelahan. Yang penting urutannya tetap: thawaf dulu, baru sai.

Bolehkah sai menggunakan kursi roda?

Boleh bagi yang beruzur. Tersedia layanan kursi roda dengan pendorong di area mas'a. Ibadahnya tetap sah.

Apakah ada doa khusus yang wajib dibaca saat sai?

Tidak ada bacaan yang wajib. Doa di Shafa dan Marwah mengikuti sunnah Nabi, sedangkan di sepanjang perjalanan jamaah bebas berdoa apa pun.

Langkah Berikutnya

Sai mengajarkan keteladanan Siti Hajar: berusaha maksimal, lalu bertawakal total. Memahami makna di balik setiap ritual membuat umroh Anda jauh lebih berkesan daripada sekadar menyelesaikan rangkaian gerakan — dan pemahaman seperti inilah yang baiknya dibimbing langsung oleh muthawwif berpengalaman.

Jika Anda ingin konsultasi paket umroh gratis dengan bimbingan manasik yang memadai dari keberangkatan hingga kepulangan, silakan hubungi WhatsApp resmi kami di 0896-5083-6168. Kami siap membantu merencanakan ibadah Anda dengan tenang.