e-ICV SATUSEHAT adalah sertifikat vaksinasi internasional digital resmi yang menggantikan buku kuning fisik bagi jamaah umroh Indonesia. Diterbitkan melalui aplikasi SATUSEHAT milik Kementerian Kesehatan RI, sertifikat ini menjadi bukti sah vaksinasi (terutama meningitis) yang diakui secara internasional. Berikut panduan lengkap mengaksesnya.
Apa itu e-ICV SATUSEHAT?
ICV (International Certificate of Vaccination) adalah sertifikat vaksinasi internasional yang selama puluhan tahun berbentuk buku kuning fisik. Kini Indonesia menerbitkan versi digitalnya — e-ICV — yang dapat diakses melalui aplikasi SATUSEHAT.
- Berlaku sebagai pengganti sah buku kuning fisik.
- Memuat data vaksinasi internasional Anda, termasuk vaksin meningitis meningokokus untuk umroh.
- Dilengkapi kode QR yang dapat diverifikasi petugas.
- Tersimpan digital sehingga tidak berisiko hilang atau rusak seperti buku fisik.
Cara mendapatkan e-ICV setelah vaksinasi
- Lakukan vaksinasi di fasilitas resmi. Datang ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), puskesmas, atau rumah sakit yang melayani vaksinasi internasional — umumnya untuk vaksin meningitis meningokokus sebelum umroh.
- Pastikan data Anda tercatat. Petugas akan menginput data vaksinasi ke sistem; pastikan nama dan nomor identitas sesuai paspor.
- Unduh aplikasi SATUSEHAT di Play Store atau App Store, lalu buat akun / masuk dengan NIK Anda.
- Buka menu sertifikat vaksin di aplikasi — e-ICV Anda akan muncul setelah data terverifikasi, biasanya dalam beberapa hari kerja.
- Simpan tangkapan layar / unduh PDF-nya sebagai cadangan, selain menunjukkannya langsung dari aplikasi.
Kapan e-ICV ditunjukkan?
- Saat pengurusan dokumen keberangkatan oleh travel (sebagai kelengkapan administrasi jamaah).
- Bila diminta petugas kesehatan di bandara keberangkatan maupun kedatangan.
- Sebagai arsip pribadi — simpan baik-baik karena masa berlakunya mengikuti jenis vaksin (vaksin meningitis umumnya berlaku beberapa tahun).
Tips: pastikan baterai ponsel cukup dan aplikasi SATUSEHAT sudah login sebelum berangkat ke bandara. Simpan juga salinan PDF di email atau cloud sebagai cadangan.
Bagaimana jika data vaksin tidak muncul di SATUSEHAT?
- Tunggu 3–7 hari kerja setelah vaksinasi — sinkronisasi data membutuhkan waktu.
- Periksa kembali kebenaran NIK dan nama yang dicatat petugas saat vaksinasi.
- Hubungi kembali fasilitas kesehatan tempat Anda divaksin untuk memastikan data sudah diinput ke sistem.
- Bila mendesak (keberangkatan dekat), mintalah surat keterangan vaksinasi dari fasilitas kesehatan sebagai bukti sementara.
Tips menyimpan e-ICV agar selalu siap ditunjukkan
- Simpan tangkapan layar kode QR di galeri ponsel dalam folder khusus "Dokumen Umroh" agar mudah ditemukan tanpa membuka aplikasi.
- Unduh versi PDF dan simpan di email serta layanan cloud (Google Drive/Dropbox) sebagai cadangan bila ponsel hilang.
- Cetak satu salinan dan selipkan bersama paspor — dokumen fisik tetap berguna sebagai backup.
- Pastikan nama di e-ICV sama persis dengan nama di paspor; perbedaan ejaan bisa menimbulkan masalah saat verifikasi.
- Cek masa berlaku — bila e-ICV dari vaksinasi umroh sebelumnya sudah kedaluwarsa, lakukan vaksinasi ulang sebelum keberangkatan berikutnya.
FAQ
Apakah buku kuning fisik masih berlaku?
Ya, buku kuning fisik yang masih berlaku tetap sah. e-ICV hanyalah versi digital penggantinya yang lebih praktis — Anda tidak wajib memiliki keduanya.
Apakah e-ICV gratis?
Aplikasi SATUSEHAT gratis diunduh. Biaya yang timbul adalah biaya vaksinasinya di fasilitas kesehatan, sesuai tarif yang berlaku.
Vaksin apa saja yang tercatat di e-ICV untuk umroh?
Umumnya vaksin meningitis meningokokus sebagai syarat administrasi umroh. Vaksin lain seperti influenza atau polio juga dapat tercatat bila dilakukan di fasilitas resmi yang terhubung sistem.
Perbedaan e-ICV dan buku kuning fisik
- Bentuk: e-ICV tersimpan digital di aplikasi SATUSEHAT; buku kuning berbentuk buklet fisik berwarna kuning.
- Keamanan: e-ICV tidak bisa hilang, basah, atau rusak; buku fisik rentan terhadap ketiga hal itu.
- Verifikasi: e-ICV dilengkapi kode QR yang bisa dipindai petugas; buku fisik mengandalkan stempel dan tanda tangan.
- Keabsahan: keduanya sah secara internasional — e-ICV adalah pengganti resmi, bukan sekadar pelengkap.
- Kemudahan: e-ICV selalu ada di ponsel; buku fisik harus diingat untuk dibawa setiap bepergian.
Bagi jamaah yang sudah memiliki buku kuning fisik yang masih berlaku, tidak wajib beralih — tetapi memiliki e-ICV sebagai cadangan sangat disarankan. Bagi jamaah baru, e-ICV adalah pilihan yang paling praktis.
Dokumen kesehatan lain yang perlu disiapkan
Selain e-ICV, lengkapi dokumen kesehatan berikut sebelum keberangkatan:
- Surat keterangan sehat dari dokter — sebagian travel mensyaratkannya, terutama untuk jamaah lansia.
- Daftar obat rutin beserta dosisnya, ditulis dalam bahasa Inggris bila memungkinkan untuk memudahkan tenaga medis di Saudi.
- Asuransi perjalanan — pastikan polisnya mencakup perawatan medis di luar negeri dan evakuasi darurat.
- Riwayat alergi dan penyakit kronis yang dicatat dan dibawa — informasikan juga kepada muthawwif rombongan Anda.
- Kontak darurat keluarga di Indonesia yang bisa dihubungi bila terjadi keadaan medis.
Kelengkapan dokumen kesehatan sering dianggap sepele, padahal inilah yang menentukan seberapa cepat Anda mendapat pertolongan bila sakit di Tanah Suci. Siapkan semuanya selagi masih di Indonesia — mengurusnya dari Saudi jauh lebih rumit.
Apakah e-ICV bisa diakses tanpa koneksi internet?
Aplikasi SATUSEHAT membutuhkan koneksi saat login awal, tetapi tangkapan layar kode QR yang sudah disimpan di galeri ponsel bisa ditunjukkan kapan saja tanpa internet. Inilah alasan menyimpan salinan offline sangat disarankan sebelum terbang.
Langkah Berikutnya
Mengurus e-ICV hanyalah satu dari sekian dokumen umroh yang perlu disiapkan — dan travel yang baik akan memandu Anda melewati semuanya tanpa bingung. Jika Anda berencana umroh dan ingin didampingi pengurusan dokumen dari awal hingga berangkat, silakan konsultasi paket umroh gratis via WhatsApp resmi 0896-5083-6168.