Rukun umroh ada lima, yaitu ihram, tawaf, sa'i, tahalul, dan tertib. Ihram adalah niat memulai umroh dari miqat; tawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran; sa'i adalah berjalan atau berlari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali; tahalul adalah mencukur atau memotong rambut; sedangkan tertib berarti melaksanakannya berurutan. Meninggalkan satu rukun saja membuat umroh tidak sah.
Apa Saja Lima Rukun Umroh Itu?
Banyak calon jamaah yang masih tertukar antara rukun, wajib, dan sunnah umroh. Padahal perbedaannya sangat mendasar: rukun umroh adalah fondasi yang apabila ditinggalkan membuat ibadah tidak sah, sedangkan wajib umroh hanya memerlukan dam (denda) sebagai gantinya. Itulah mengapa memahami lima rukun umroh adalah syarat mutlak sebelum berangkat.
Kelima rukun umroh tersebut adalah:
- Ihram — berniat memulai umroh dari tempat miqat
- Tawaf — mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran
- Sa'i — berjalan antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali
- Tahalul — mencukur atau memotong rambut
- Tertib — melaksanakan seluruh rangkaian secara berurutan
1. Ihram: Memulai dengan Niat dari Miqat
Ihram adalah pintu masuk ibadah umroh. Rukun ini dimulai dengan niat di hati (disunnahkan melafalkannya) yang dilakukan di miqat, yaitu batas tempat yang ditentukan syariat. Jamaah dari Indonesia yang terbang langsung ke Jeddah umumnya mengambil miqat di Yalamlam dari atas pesawat, ditandai pengumuman sekitar 30 menit sebelum mendarat. Jamaah yang singgah di Madinah terlebih dahulu mengambil miqat di Dzulhulaifah (Bir Ali).
Saat ihram, jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain ihram tanpa jahitan, sedangkan perempuan mengenakan pakaian muslimah yang menutup aurat tanpa cadar dan tanpa sarung tangan. Sejak ihram, berlaku larangan-larangan ihram seperti memotong kuku, memakai wangi-wangian, dan berhubungan suami istri hingga tahalul.
2. Tawaf: Mengelilingi Ka'bah Tujuh Putaran
Tawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran dengan arah berlawanan jarum jam, dimulai dan diakhiri sejajar dengan Hajar Aswad. Setiap putaran dimulai dari garis sejajar Hajar Aswad, dan putaran ketujuh selesai di titik yang sama. Posisi Ka'bah harus selalu berada di sebelah kiri jamaah.
Disunnahkan berlari kecil (ramal) pada tiga putaran pertama bagi laki-laki, serta berdoa dan berzikir sepanjang tawaf. Tidak ada bacaan khusus yang wajib; jamaah boleh memanjatkan doa apa pun dalam bahasa apa pun. Setelah tawaf, disunnahkan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, lalu meminum air zamzam. Dalam sesi manasik Pesyiar Baitullah, tata cara tawaf ini dipraktikkan secara detail sebelum keberangkatan agar jamaah tidak kebingungan di lapangan.
3. Sa'i: Antara Safa dan Marwah Tujuh Kali
Sa'i adalah berjalan atau berlari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah kembali ke Safa dihitung satu kali lagi, sehingga sa'i berakhir di Marwah pada hitungan ketujuh. Jarak totalnya sekitar 3,5 kilometer.
Ibadah ini mengenang perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, hingga Allah memancarkan air zamzam. Di antara dua tanda lampu hijau, laki-laki disunnahkan berlari kecil. Seperti tawaf, tidak ada bacaan wajib dalam sa'i; doa dan zikir apa pun diperbolehkan.
4. Tahalul: Mencukur atau Memotong Rambut
Tahalul secara bahasa berarti "menjadi halal", yaitu berakhirnya larangan-larangan ihram. Rukun ini ditunaikan dengan mencukur gundul (halq) atau memotong sebagian rambut (taqshir) minimal sepanjang satu ruas jari, bagi laki-laki maupun perempuan. Mencukur gundul lebih utama bagi laki-laki berdasarkan keutamaan yang disebutkan dalam hadis.
Setelah tahalul, seluruh larangan ihram gugur dan rangkaian ibadah umroh selesai. Banyak jamaah yang melakukan tahalul di barbershop sekitar Masjidil Haram, lalu melanjutkan ibadah sunnah seperti tawaf sunnah dan salat di Hijr Ismail.
5. Tertib: Melaksanakan Semuanya Berurutan
Tertib berarti melaksanakan ihram, tawaf, sa'i, lalu tahalul secara berurutan tanpa terbalik. Seseorang tidak bisa bertahalul sebelum sa'i, atau bersa'i sebelum tawaf, karena sa'i disyaratkan didahului tawaf. Tertib adalah rukun yang menjamin rangkaian ibadah tersusun sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Dalam praktiknya, urutan baku yang dijalani jamaah adalah: niat ihram di miqat → tiba di Makkah dan tawaf → sa'i → tahalul. Muthawwif atau pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan biasanya mengingatkan urutan ini di setiap tahap.
Apa yang Terjadi Jika Satu Rukun Umroh Terlewat?
Jika satu rukun terlewat, umrohnya tidak sah dan ia tetap dalam keadaan ihram hingga rukun yang tertinggal itu disempurnakan. Ini berbeda dengan meninggalkan wajib umroh — misalnya tidak mengambil miqat dari tempat yang benar — yang masih bisa ditebus dengan membayar dam berupa menyembelih kambing. Karena konsekuensinya sebesar itu, calon jamaah disarankan mengikuti manasik secara tuntas sebelum berangkat.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah ada bacaan khusus yang wajib dibaca saat tawaf dan sa'i?
Tidak ada. Yang wajib adalah niat, jumlah putaran, dan tata caranya; bacaan doa apa pun dalam bahasa apa pun diperbolehkan dan berpahala.
Apakah tertib benar-benar termasuk rukun umroh?
Ya, menurut jumhur ulama tertib adalah rukun kelima. Tanpa tertib, rangkaian ibadah dianggap tidak tersusun sebagaimana syariat.
Bolehkah perempuan yang haid melaksanakan tawaf?
Tidak boleh. Perempuan yang haid harus menunggu suci sebelum tawaf, karena suci dari hadas adalah syarat sah tawaf. Ia tetap boleh berniat ihram dan menunggu di hotel hingga suci.
Langkah Berikutnya
Memahami rukun umroh lewat bacaan adalah langkah awal yang baik, tetapi praktik langsung bersama pembimbing jauh lebih menenangkan. Pesyiar Baitullah — gerakan komunitas yang perjalanannya diselenggarakan PT. Samira Ali Wisata (PPIU 16092100475620005 & PIHK 160922100475620002, izin resmi Kementerian Agama RI) — mengadakan manasik terpadu sebelum keberangkatan agar setiap jamaah paham betul tata cara ibadahnya. Konsultasikan rencana umroh Anda secara gratis melalui WhatsApp resmi 0896-5083-6168.